Petani Sergai Kesulitan Air dan Solar, Ancaman Gagal Panen Mengintai di Musim Kemarau
DUTA NUSANTARA NEWS,SERDANG BEDAGAI – Musim kemarau yang melanda Kecamatan Bandar Khalifah, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), selama sekitar dua bulan terakhir mulai berdampak terhadap sektor pertanian. Sejumlah petani mengeluhkan berkurangnya pasokan air untuk mengairi sawah, sementara biaya operasional meningkat akibat sulitnya memperoleh bahan bakar solar untuk pompanisasi.
Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Gelam Sei Serimah, Kecamatan Bandar Khalifah, Williwono Harianja, mengatakan para petani kini mengandalkan air pasang laut dan aliran Sungai Padang untuk memenuhi kebutuhan irigasi. Sebagian lainnya memanfaatkan fasilitas pompanisasi yang telah disediakan pemerintah.
Namun, menurutnya, sistem pompanisasi belum dapat beroperasi secara optimal karena debit air Sungai Padang mengalami penurunan cukup signifikan akibat kemarau.
"Belum bisa beroperasi semaksimal mungkin karena debit air Sungai Padang berkurang jauh. Selain itu, kami juga kesulitan mendapatkan solar. Kalaupun ada, harganya mencapai Rp10.000 per liter. Kondisi ini membuat biaya produksi petani semakin tinggi," ujar Williwono, Minggu (26/7/2026).
Ia menambahkan, kendala lain yang dihadapi petani adalah kondisi jaringan saluran irigasi yang dinilai sudah tidak lagi berfungsi secara maksimal. Sejumlah titik saluran dilaporkan mengalami kerusakan, seperti retak dan bocor, sehingga distribusi air ke lahan pertanian menjadi tidak optimal.
Menurutnya, kerusakan tersebut berdampak pada sekitar 200 hingga 300 hektare areal persawahan di wilayah Desa Gelam Sei Serimah yang sangat bergantung pada saluran irigasi tersebut.
"Salurannya memang sudah harus direhabilitasi. Banyak yang bocor dan pecah sehingga air tidak mengalir maksimal ke lahan pertanian," katanya.
Williwono berharap pemerintah, khususnya Dinas Pertanian, dapat segera melakukan peninjauan terhadap kondisi saluran irigasi yang diperkirakan dibangun sekitar tahun 2012. Ia juga berharap fasilitas pompanisasi yang telah dibangun pemerintah sejak 2005 tetap dapat dimaksimalkan agar membantu petani menghadapi musim kemarau.
"Harapan kami pemerintah segera meninjau dan memperbaiki saluran irigasi tersebut. Dengan begitu, pompanisasi yang sudah ada dapat dimanfaatkan secara maksimal sehingga kebutuhan air sawah tetap terpenuhi meski kemarau masih berlangsung," pungkasnya.
Kondisi ini menjadi perhatian para petani mengingat musim tanam masih berlangsung. Apabila pasokan air terus menurun dan tidak segera diatasi, mereka khawatir produktivitas padi akan menurun bahkan berpotensi mengalami gagal panen.***(WH)
Related Articles